3.1. Pendekatan Kesusastraan
Sastra
merupakan kata serapan dari bahasa sansekerta sastra, yang berarti “teks yang
mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar sas- yang berarti
“instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa indonesia kata ini biasa digunakan
untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki
arti atau keindahan tertentu
Seni Seni pada
mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari
kreativitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang
diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan.
Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai.
Bahwa masing-masing individu artis
memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih
bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu.
Definisi Seni menurut beberapa tokoh;
Ki Hajar Dewantara
Seni
merupakan hasil keindahan sehingga dapat menggerakkan perasaan indah orang yang
melihatnya, oleh karena itu perbuatan manusia yang dapat mempengaruhi dapat
menimbulkan perasaan indah itu seni.
Sudarmaji
Seni
adalah segala manifestasi batin dan pengalaman estetis dengan menggunakan media
bidang, garis, warna, tekstur, volume dan gelap terang.
Aristoteles
Seni
adalah bentuk yang pengungkapannya dan penampilannya tidak pernah menyimpang
dari kenyataan dan seni itu adalah meniru alam.
Peranan sastra dapat
dilihat dari berbagai aspek. Dari aspek isi, jelas bahwa karya sastra sebagai karya imajinatif tidak lepas dari realitas. Karya
sastra merupakan cermin zaman. berbagai hal yang terjadi pada suatu
waktu, baik positif maupun negatif direspon oleh pengarang.
Dalam proses penciptaannya, pengarang akan melihat fenomena-fenomena yang terjadi di
masyarakat itu secara kritis, kemudian mereka mengungkapkannya dalam bentuk yang imajinatif.
Fungsi sastra adalah dulce et utile, artinya indah dan bermanfaat. Dari aspek gubahan, sastra disusun dalam bentuk, yang apik
dan menarik sehingga membuat orang senang membaca, mendengar, melihat, dan
menikmatinya. sementara itu,
dari aspek isi ternyata karya sastra sangat bermanfaat. Di dalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan moral yang berguna untuk
menanamkan pendidikan karakter.
Pembelajaran sastra diarahkan pada tumbuhnya sikap apresiatif terhadap
karya sastra, yaitu sikap menghargai karya
sastra. Dalam pembelajaran sastra ditanamkan tentang pengetahuan karya sastra (kognitif),
ditumbuhkan kecintaan terhadap karya sastra (afektif) , dan dilatih keterampilan menghasilkan karya sastra (psikomotor). Kegiatan apresiatif sastra dilakukan melalui kegiatan reseptif seperti membaca dan mendengarkan
karya
sastra,
menonton pementasan karya sastra, produktif, seperti
mengarang, bercerita, dan mementaskan karya
sastra, dokumentatif, misalnya mengumpulkan puisi, cerpen,
membuat kliping tentang infomasi kegiatan sastra.
Pada kegiatan
apresiasi sastra pikiran, perasaan, dan kemampuan motorik dilatih
dan dikembangkan. Melalui kegiatan semacam itu pikiran menjadi kritis, perasaan menjadi peka dan halus, kemampuan motorik terlatih. Semua itu merupakan modal dasar yang
sangat berarti dalam pengembangan pendidikan karakter.
Ketika seseorang membaca, mendengarkan, atau menonton
pikiran dan perasaan diasah. Mereka harus memahami karya karya sastra secara kritis dan komprehensif, menangkap tema dan amanat yang
terdapat di dalamnya dan memanfaatkannya. Persamaan dengan kerja pikiran
itu, kepekaan perasaan diasah sehingga condong pada tokoh protagonis dengan
karakternya yang baik dan menolak tokoh antagonis yang berkarakter jahat.
Ketika seseorang menciptakan karya sastra, pikiran kritisnya dikembangkan, imajinasinya
dituntun ke arah yang positif sebab ia sadar karya sastra harus indah dan bermanfaat.
Penulis akan menuangkan imajinasinya sesuai dengan kaidah genre sastra yang
dipilihnya. Ia
akan memilih diksi, menyusun dalam bentuk kalimat, menggunakan gaya bahasa yang tepat, dan sebagainya. sementara itu, pada benak pengarang terbersit keinginan untuk menyampaikan amanat, menanamkan nilai!nilai
moral, baik melalui karakter tokoh, perilaku tokoh,
ataupun dialog. Dalam penulisan karya sastra orisinalitas sangat
diutamakan. Pengarang berusaha akan berusaha menghindari penjiplakan apalagi
plariarisme. Dengan demikian, nilai!nilai kejujuran sangat dihargai dalam
karang-
mengarang.
Dokumentasi sebagai bagian dari kegiatan apresiasi
sastra sangat besar sumbangannya terhadap pendidikan karakter. tidak semua siswa ternyata mampu dan mau mendokumentasikan karyanya dan mengkliping karya orang lain. Pembuatan dokumentasi
dan kliping memerlukan ketekuman dan kecermatan.
Mereka harus banyak membaca, kemudian memilih bacaan yang pantas didokumentaikan dan dikliping. Pembuat dokumentasi dan
kliping pada umumnya adalah manusia-manusia yang
berpikir masa depan
Hubungan sastra dan seni dengan Ilmu
Budaya Dasar adalah sastra
adalah suatu tulisan yang makna seni atau keindahan tertentu. Sedangkan seni
adalah buah cipta manusia yang muncul dari hati manusia itu sendiri dan lebih
merujuk kepada ekspresi manusia tersebut. Di zaman sekarang, sastra sudah
menjadi karya seni yang begitu banyak digunakan orang sebagai media penyaluran
ekpresi mereka. contohnya antara lain : Novel, Cerita/cerpen (tertulis/lisan),
Syair, Pantun, Sandiwara/drama, Lukisan/kaligrafi, dan lain-lain. selain
penyalur bakat dan ekpresi seni seorang manusia, sastra juga berfungsi sebagai
suatu teknik berkomunikasi antara manusia yang satu dengan manusia yang lain.
seperti tradisi budaya Betawi yang mewajibkan untuk berpantun sebagai kata
sambutan antar mempelai disaat mereka menikah.
Hubungan sastra dan seni dengan ilmu budaya dasar adalah
sama-sama memiliki objek yang sama yaitu manusia. sama-sama mempelajari
hubungan antar manusia melalui suatu komunikasi yang beraneka ragam macamnya.
dan bayangkan jika manusia hidup tanpa seni. jika manusia hidup tanpa bisa
menyalurkan ekspresi mereka. jika manusia tidak bisa berkomunikasi dengan
manusia lainnya. maka akan menggangu kejiwaan atau psikologis manusia tersebut.
3.2. Ilmu Budaya Dasar yang dihubungkan dengan prosa
Prosa adalah suatu
jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi
ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih
sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin
"prosa" yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa
biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa
dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta
berbagai jenis media lainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa
lama dan prosa baru,prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum
terpengaruhi budaya barat,dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa
aturan apa pun.
Jenis –
jenis prosa
·
Prosa lama
·
Prosa Baru
Prosa lama merupakan karya sastra yang
belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Karya sastra prosa
lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan, disebabkan karena belum
dikenalnya bentuk tulisan. Setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke
indonesia, masyarakat menjadi akrab dengan tulisan, bentuk tulisan pun mulai
banyak dikenal. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah
babak-babak sastra pertama dalam rentetan sastra indonesia mulai ada.
Prosa baru
adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya
Barat.
Komponen
prosa lama;
1.
Hikayat
Hikayat, berasal dari India dan Arab, berisikan cerita
kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang
memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki
seseorang, yang diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam
hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh: Hikayat Hang Tuah,
Kabayan, si Pitung, Hikayat si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Panji
Semirang, Hikayat Raja Budiman.
2.
Sejarah
Sejarah (tambo), adalah salah satu bentuk prosa lama yang
isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan
dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah,
juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini
ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama. Contoh: Sejarah Melayu karya datuk
Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.
3.
Kisah
Kisah, adalah cerita tentang cerita perjalanan atau
pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan
Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.
4.
Dongeng
Dongeng, adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Dongeng
sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:
- Fabel,
adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran
moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang). Contoh: Kancil dengan
Buaya, Kancil dengan Harimau, Hikayat Pelanduk Jenaka, Kancil dengan
Lembu, Burung Gagak dan Serigala, Burung bangau dengan Ketam, Siput dan
Burung Centawi, dan lain-lain.
- Mite
(mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap
sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib. Contoh:
Nyai Roro Kidul, Ki Ageng Selo, Dongeng tentang Gerhana, Dongeng tentang
Terjadinya Padi, Harimau Jadi-Jadian, Puntianak, Kelambai, dan lain-lain.
- Legenda,
adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu
tempat atau wilayah. Contoh: Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, dan
lain-lain.
- Sage,
adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan
keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang. Contoh: Calon
Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, dan lain-lain.
- Parabel,
adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan
menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh: Kisah Para Nabi, Hikayat
Bayan Budiman, Bhagawagita, dan lain-lain.
- Dongeng
jenaka, adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas atau cerdik
dan masing-masing dilukiskan secara humor. Contoh: Pak Pandir, Lebai
Malang, Pak Belalang, Abu Nawas, dan lain-lain.
5.
Cerita
berbingkai
Cerita berbingkai, adalah cerita yang didalamnya terdapat
cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam
Komponen
prosa baru;
6.
Roman
Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan
pelaku utamanya dengan segala suka dukanya. Dalam roman, pelaku utamanya sering
diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa atau bahkan sampai
meninggal dunia. Roman mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat
secara mendetail dan menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi
(pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan
pelaku dalam cerita tersebut.
Berdasarkan kandungan isinya, roman dibedakan atas beberapa
macam, antara lain sebagai berikut:
- Roman
transendensi, yang di dalamnya terselip maksud tertentu, atau yang
mengandung pandangan hidup yang dapat dipetik oleh pembaca untuk kebaikan.
Contoh: Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Salah Asuhan oleh
Abdul Muis, Darah Muda oleh Adinegoro.
- Roman
sosial adalah roman yang memberikan gambaran tentang keadaan masyarakat.
Biasanya yang dilukiskan mengenai keburukan-keburukan masyarakat yang
bersangkutan. Contoh: Sengsara Membawa Nikmat oleh Tulis St. Sati, Neraka
Dunia oleh Adinegoro.
- Roman
sejarah yaitu roman yang isinya dijalin berdasarkan fakta historis,
peristiwa-peristiwa sejarah, atau kehidupan seorang tokoh dalam sejarah.
Contoh: Hulubalang Raja oleh Nur St. Iskandar, Tambera oleh Utuy Tatang
Sontani, Surapati oleh Abdul Muis.
- Roman
psikologis yaitu roman yang lebih menekankan gambaran kejiwaan yang
mendasari segala tindak dan perilaku tokoh utamanya. Contoh: Atheis oleh
Achdiat Kartamiharja, Katak Hendak Menjadi Lembu oleh Nur St. Iskandar,
Belenggu oleh Armijn Pane.
- Roman
detektif merupakan roman yang isinya berkaitan dengan kriminalitas. Dalam
roman ini yang sering menjadi pelaku utamanya seorang agen polisi yang
tugasnya membongkar berbagai kasus kejahatan. Contoh: Mencari Pencuri Anak
Perawan oleh Suman HS, Percobaan Seria oleh Suman HS, Kasih Tak Terlerai
oleh Suman HS.
7.
Novel
Novel berasal dari Italia. yaitu novella ‘berita’. Novel
adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya
yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik. Konflik atau
pergulatan jiwa tersebut mengakibatkan perubahan nasib pelaku. lika roman
condong pada idealisme, novel pada realisme. Biasanya novel lebih pendek
daripada roman dan lebih panjang dari cerpen. Contoh: Ave Maria oleh Idrus,
Keluarga Gerilya oleh Pramoedya Ananta Toer, Perburuan oleh Pramoedya Ananta
Toer, Ziarah oleh Iwan Simatupang, Surabaya oleh Idrus.
8.
Cerpen
Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebagian
kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam
cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan tetapi hal itu tidak menyebabkan
perubahan nasib pelakunya. Contoh: Radio Masyarakat oleh Rosihan Anwar, Bola
Lampu oleh Asrul Sani, Teman Duduk oleh Moh. Kosim, Wajah yang Bembah oleh
Trisno Sumarjo, Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis.
9.
Riwayat
Riwayat (biografi), adalah suatu karangan prosa yang berisi
pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga
pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai
meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa, Prof. Dr. B.J Habibie, Ki Hajar
Dewantara.
10.
Kritik
Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk
suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan
kriteria tertentu yang sifatnya objektif dan menghakimi.
11.
Resensi
Resensi adalah pembicaraan / pertimbangan / ulasan suatu
karya (buku, film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca
mengetahui karya tersebut dari berbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan,
dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu
tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.
12.
Esai
Esai adalah ulasan / kupasan suatu masalah secara sepintas
lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup,
tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni, fenomena sosial,
politik, pementasan drama, film, dll.
3.3. Nilai-nilai dalam prosa fiksi
Prosa
fiksi atau
cukup disebut karya fiksi, biasa juga diistilahkan dengan prosa cerita, prosa
narasi, narasi atau cerita berplot. Jadi pengertian prosa fiksi ialah kisah
atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan latar
serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi
pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita . rumusan yang dipaparkan itu ialah
rumusan dalam artian konvensional karena sebuah prosa fiksi seringkali justru
anti cerita dan tidak berplot. Dalam bentuk prosa fiksi yang non konvensional
itu, tujuan pengarang umumnya hanya ingin menampilkan gagasan secara aktual
lewat karya prosa yang ditampilkannya. Untuk meahaminya, pembaca harus memilki
bekal ilmu humanitas terutama psikologi dan filsafat.
Nilai-nilai yang
terdapat dalam prosa fiksi;
Sebagai seni yang bertulang punggung cerita, mau tidak mau karya sastra
(prosa fiksi) langsung atau tidak langsung membawakan moral, pesan atau cerita.
Adapun nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra antara lain;
1.
Prosa fiksi memberikan kesenangan.
Keistimewaan kesenangan yang diperoleh dan membaca fiksi adalah pembaca
mendapatkan pengalaman sebagaimana mengalaminya sendiri peristiwa itu peristiwa
atau kejadian yang dikisahkan. Pembaca dapat mengembangkan imajinasinya untuk
mengenal daerah atau tempat yang asing, yang belum dikunjunginya atau yang tak
mungkin dikunjungi selama hidupnya. Pembaca juga dapat mengenal tokoh-tokoh
yang aneh atau asing tingkah lakunya atau mungkin rumit perjalanan hidupnya
untuk mencapai sukses.
2.
Prosa fiksi memberikan informasi.
Fiksi memberikan sejenis infonnasi yang tidak terdapat di dalam
ensildopedi. Dalam novel sexing kita dapat belajan sesuatu yang lebih datipada
sejarah atau laporan jumalistik tentang kehidupan masa kini, kehidupan masa
lalu, bahkan juga kehidupan yang akan datang atau kehidupan yang asing sama
sekali.
3.
Prosa fiksi memberikan warisan kultural.
Prosa fiksi dapat menstimuli imaginasi, dan merupakan sarana bagi
pemindahan yang tak henti-hentinya dari warisan budaya bangsa.
4.
Prosa memberikan keseimbangan wawasan.
Lewat prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan
pengalaman¬pengalaman dengan banyak individu. Fiksi juga memungkinkan labih
banyak kesempatan untuk memilih respon-respon emosional atau rangsangan aksi
yang mungkin sangat berbeda daripada apa yang disajikan dalam kehidupan
sendiri.
Contoh 2
karya sastra
Kata
Asal
mula adalah kata
Jagat
tersusun dari kata
Di balik
itu hanya
Ruang
kosong dan angin pagi
Kita
takut kepada momok karena kata
Kita cinta
kepada bumi karena kata
Kita
percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib
terperangkap dalam kata
Karena
itu aku
Bersembunyi
di belakang kata
Dan
menenggelamkam
Diri
tanpa sisa.
(Karya;
Subagio Sastrowardoyo)
Di Restoran
Kita berdua saja, duduk
Aku
memesan ilalang panjang dan bunga rumput
Kau
entah memesan apa
Aku memesan batu di
tengah sungai terjal yang deras
Kau entah memesan apa.
Tapi kita berdua saja,
duduk
Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya
Memesan rasa lapar yang asing itu.
(Karya;
Sapardi Djoko Damono)
3.4. Ilmu Budaya Dasar yang dihubungkan dengan puisi
Puisi (dari bahasa
Yunani kuno:
ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create)
adalah seni tertulis di
mana bahasa digunakan untuk
kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan
pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan
rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun
perbedaan ini masih diperdebatkan. Pandangan kaum awam biasanya membedakan
puisi dan prosa dari jumlah huruf dan kalimat dalam karya tersebut. Puisi lebih
singkat dan padat, sedangkan prosa lebih mengalir seperti mengutarakan cerita.
Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak
sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi
sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati
seseorang yang membawa orang lain ke dalam keadaan hatinya.
Kreativitas
penyair dalam membagun puisinya bisa dari hasil mengamati keadaan sekitar, dan
inspirasi yang datang tiba-tiba. Kreativitas penyair juga tergantung pada
banyaknya pembendaharaan kata yang ia miliki. Semakin banyak kosa kata yang ia
kuasai, tentulah semakin mudah si penyair dalam membangun puisi.
Alasan-alasan
yang mendasari penyajian puisi dalam IBD
1.
Puisi merupakan
karya sastra lama, sehingga sudah melekat pada budaya manusia.
2.
Dengan puisi,
rangkaian kata dalam penyampaian budaya dapat dilakukan dengan lebih indah.
3.
Dapat lebih mudah
memahami budaya suatu bangsa, bila di tuliskan dalam bait puisi
Gerbong Tiga
pada gerbong tiga.
aku menenggelamkan diri.
jauh, membiarkan diri terbawa
entah kemana kereta melaju pergi.
pada gerbong tiga.
aku menunggu dalam jeda.
jenuh, menunggu rasa yang diantar tiba
entah pada pemberhentian ke berapa.
pada gerbong tiga.
aku jatuh cinta.
padanya, Sang ganjil dalam urutan angka
karena tiga, mungkin berarti kita?--ditambah Dia, yang jadi juru temunya.
(Karya; Wijdan Hawari)
SUMBER: